Di
tengah terik matahari seorang bocah tengah asik menggoreskan tangkai kayu ke
permukaan tanah. Tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di
hadapannya, apa lagi cahaya matahari yang kian menjilati tubuhnya. Ia tetap
asik dengan imajinasinya itu. Dengan
mahir tangannya menari-nari membentuk sebuah benda yang cukup membuatnya
terkesima. Hingga
seorang wanita separuh baya
simpati dan mendekatinya.“Apa yang sedang kau lakukan nak?” sapa perempuan paruh
baya yang berdiri dihadapannya.“Aku sedang menggambar sesuatu bu” jawab bocah
berusia 6 tahun itu. Ia membungkukkan tubuhnya dan
mempertajam pandangannya. Sosok perempuan yang kerap di panggilnya ibu itu
terkejut dan menatap tajam mata putra bungsunya.“Mengapa kamu menggambar benda
ini nak?Dari mana kamu mengetahuinya?”Tanya ibu penasaran.“Tadi sewaktu aku
mengumpulkan botol bekas di kampung sebelah aku menemukan buku ini di lubang
sampah.”Jawab bocah dengan polosnya.Bocah yang kerap di sapa Fadlin itu menjulurkan
tangannya dan memberikan sebuah buku pada ibunya.“Aku ingin ke tempat itu bu,
tempatnya indah sekali. Aku ingin ke puncak itu bu..! Kapan kita bisa ke sana?”
rengek Fadlin mendesak ibunya.
“Fadlin
anakku..tempat ini sangat jauh untuk bisa kau singgahi. Butuh uang yang sangat
banyak agar bisa kesana, dan uang kita gak akan pernah cukup untuk menginjakkan
kaki di kota itu.”Sahut bu Ratih memperjelas ucapannya.Fadlin tampak kecewa
dengan penjelasan ibunya.Jawaban itu seakan menampar pipinya dan menjatuhkan mimpi-mimpinya.
Dengan wajah murung ia berbalik badan dan melangkah ke arah rumah petak yang
mungil
****
Kriiinggggggg…….
Bel
sekolah berbunyi, pelajaran pertamaakan segara dimulai. Anak-anak mengambil
langkah seribu menuju kelas, membentuk barisan rapi layaknya para pasukan semut
yang akan mencari mangsa dilorong-lorong gelap. Dengan pakaian merah marondan
high heels berukuran 5cm berwarna hitam seorang wanita muda melangkah menuju
ruang kelas dimanatempat ia mentransfer ilmu pengetahuannya. Wajahnya bersinar
bagai sunrise yang tampak indah dari bibir pantai, senyumnya menyapa
siswa-siswi yang siap menerima mata pelajaran hari ini.Wanita yang kerap disapa
bu Siska itu segera memulai proses pembelajaran.
“Anak..anak..
keluarkan buku tulisnya!kita akan belajar membaca dan menulis hari ini.” Sahut
bu guru.Ia mengeluarkan beberapa media pembelajaran untuk mempermudah murid-muridnya
menangkap pesan yang disampaikan. Media tersebut terpampang di papan tulis.Dengan
wajah ceria tanpa beban para siswa menebak huruf-huruf yang ada di hadapan
mereka.Ketika bu guru menerangkan huruf demi huruf, seorang bocah menatap tajam
suatu objekyang membuatnya gelisah semalaman.Ia terhenyak melihat gambar itu,
“Bu… tower yang berbentuk A itu ada di daerah mana?” tanyanya lantang. Semua
mata tertuju pada bocah si penjual kue keliling, mereka heran dengan pertanyaan
aneh yang melintas di telinga.Bu Siska mengernyitkan dahi dan perlahan
mendekati bocah aneh itu. “Sayang.. itu namanya bukan tower. Tapi itu adalah
menara Eiffel.” Ujar bu Siska. “Letaknya jauh ya bu?”.“Menara Eiffel itu
terletak di Negara Perancis dan sangat jauh dari sini, Fadlin harus naik
pesawat dulu untuk bisa kesana.”Jawab bu Siska dengan tenang sembari mengusap
kepala Fadlin.“hahaha..mana mungkin bocah penjual kue naik pesawat.” Tiba-tiba
suara seorang bocah menggelegar diiringi tawa teman-temannya. Bocah gendut
bernama ray itu menjatuhkan mimpi Fadlin. Namun Fadlin tak menghiraukan
ocehannya, dianggapnya angin lalu saja.Tak puas akan jawaban dari gurunya, ia terus
menerus bertanya tentang Paris. Ocehan mereka membuat linglung siswa yang lain,
seakan penuh tanya apa yang tengah mereka bicarakan.“Fadlin, sayang..kalau kamu
mau ke menara Eiffel kamu harus belajar yang rajin dan bekerja keras. Jika kamu
sudah menjadi orang yang sukses Insya’allah kamu akan bisa mengunjungi menara
Eiffel itu.” Ujar Bu Siska.Motivasi dari guru favoritnya itu memancarkan sinar
indah di wajah Fadlin.Alisnya mengkerut,senyumnya yang khas menatap tajam
langit-langit kelas. Sepertinya ia telah menemukan sedikit titik cerah untuk
menggapai mimpinya.
“Assalamu’alaikum…Ibu,
Fadlin pulang!”,sahut Fadlin sambil berlari-lari kecil.
“Wa’alaikumsalam..”
terdengar jawaban dari seorang wanita paruh baya yang tengah mempersiapkan kuenya.
Fadlin menjulurkan tangan dan mencium punggung tangan ibunya.Seorang remaja
berpakaian lusuh keluar dari bilik kamar dan meraih sebuah tampah berisikan kue
yang hendak dijual keliling.“Mas Rian mau keliling ya?Fadlin ikut ya mas.”Seru
Fadlin memohon.“ya sudah kalau kamu mau ikut, buruan ganti baju gih”. Perintah
abangnya yang tengah duduk di kelas 1 SMP itu.“okey” sambil mengangkat jempol
ke arah abangnya, Ia berlari menyingkap tirai kamartua yang tak berpintu. Bu
Ratih tampak bahagia melihat keakraban putra-putranya.Semenjak ditinggal
suaminya bu Ratih harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.Semangat
untuk membiayai pendidikan mereka pun terus berkobar.Tangannya yang mahir dalam
mengadon kuetelah berhasil menghantarkan putra-putranya pada pendidikan yang
lebih tinggi.Sesekali iamenjadi buruh cuci dan setrika untuk menambah
pendapatannya.
****
Siang
itu langit tampak tak bersahabat, awan gelap perlahan menutupi cahaya sang surya,
tampak gumpalan awan tak dapat menahan beban.Namun keadaan tak memudarkan
kobaran semangat para pasukan coklat muda dan coklat tua yang tengah asik
latihan dengan gigihnya.Meskipun cuaca tak dapat diajak kompromi, mereka bersikukuh
untuk menyalurkan hobbi.
“Adik-adik…
Ini adalah hari terakhir kalian dalam proses seleksi untuk mengikuti kegiatan
Perlombaan Perkemahan Prestasi. Siapapun yang akan terpilih diharapkan mampu
membawa harum nama sekolah kita, khusunya gugus depan pramuka SMA N.1 STABAT.”
Ujar seorang Lelaki gagah dengan seragam coklat muda dan coklat tua yang
dikenakannya.Beliau dikenal sebagai sosok Pembina yang sangat bijaksana,
kreatif, dan selalu menghadirkan adik-adik yang mampu membawa kebanggaan.Duaaarrrrrr…..
Gemuruh
guntur mulai menyerang belahan bumi Stabat, anggota pramuka yang tengah
berbaris berlarian menuju kelas kosong
dihadapan mereka. Jantung Fadlin berdegup kencang
tak seperti biasanya.Bukan karena guntur yang menyapa namun rasa penasaran yang
tinggi kerap menghantui. Tak henti mulutnya berkomat kamit memanjatkan do’a agar
isi surat itu membawa keberuntungan bagi dirinya. “Nah, adik-adik..ditangan
kalian telah saya berikan sebuah amplop yang di dalamnya berisikan hasil
seleksi yang kalian lakukan selama seminggu. Selamat bagi kalian yang terpilih,
dan untuk yang belum beruntung masih ada kesempatan untuk terus berusaha agar
bisa mengikuti kegiatan-kegiatan selanjutnya”. Ucap kak Hendra sang Pembina.Tangan
Fadlin bergetar hebat, perlahan dibukanya amplop tersebut.Mata Fadlin tampak
berkaca-kaca membaca isi surat itu dan langsung sujud di tengah-tengah
keramaian. Terang saja ia bahagia dan terharu, ini adalah perkemahan pertama
yang berhasil ia taklukkan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi ia berharap
dapat membawa kebanggaan untuk sekolahnya. “Selamat Fadlin! akhirnya kamu lulus
seleksi, dan kakak percayakan pada kamu untuk menjadi pimpinan sangga putera
selama kegiatan berlangsung” ujar kak Hendra dengan senyum manisnya. “wah..
serius kak?, Fadlin janji akan menjadi seorang Pinsa yang bertanggung jawab”.
Ucap remaja 15 tahun itu.Remaja kelahiran desa Pantai gemi, 15 Juni 1993 ini
tidak hanya aktif di ekskul Pramuka tetapi ia selalu di percaya untuk mengikuti
olimpiade matematika dan fisika yang diadakan sekolah maupun diluar sekolah. Bersama
sepeda tuanya ia kembali ke rumahdengan wajahbersinar meski hujan mengguyur tubuhnya.
Setibanya di depan pintu keadaan yang memprihatinkan kembali terjadi pada
keluarganya. Hujan yang tumpah saat itu menggenangi pekarangan, ditambah lagi
bintang-bintang kecil mengelilingi atap rumah.Dengan tertatih wanita tua itu
mengambil ember untuk menampung curah hujan yang turun dari celah-celah atap
rumahnya.Melihat keadaan itu Fadlin meneteskan air mata dan langsung menggiring
ibunya ke kamar.“Ibu istirahat saja disini, biar Fadlin yang membereskan ini
semua” Sahut anak yang berbakti itu.Usai membereskan semuanya Fadlin kembali ke
kamar ibunya dengan segelas air hangat dan sepiring nasi dengan tempe dan
kecap. Makanan inilah yang hampir tiap hari di konsumsi ia sekeluarga. Sesekali
abangnya membawakan buah-buahan untuk memperbaiki gizi. “Bu, Fadlin lulus
seleksi untuk mengikuti kegiatan lomba pramuka di Unimed selama 5 hari. Dan minggu
depan Fadlin berangkat, tapi melihat kondisi Ibu seperti ini Fadlin gak tega
untuk ninggalin Ibu.” Sahut putra bungsu bu Ratih sambil memasukkan sesuap nasi
ke dalam mulut ibunya.“Pergilah nak, ibu baik-baik saja. Ibu tau hobimu itu
akan membawamu menjadi orang yang berguna. Almarhum ayahmu dulu sangat sering
keluar kota karena prestasi Pramukanya. Wajar jika anak ibu yang gagah ini
mewarisi hobi ayahnya.“Benarkah bu?Kalau ayah saja bisa keluar kota berarti
Fadlin bisa ke luar negeri dong!”. “Haha..kamu ini ada2 saja”. Senyum sumringah
terpancar di wajah keduanya.“Berangkat dan bawalah kebanggaan untuk sekolahmu
nak.”Sahut bu Ratih mendukung aktivitas anaknya.“Terimakasih ya bu, udah dukung
Fadlin untuk ikut kegiatan ini.Fadlin janji gak akan ngecewain ibu.”Dipeluknya
tubuh ibunya yang terbaring lemas tak berdaya.
****
"Anakku
Fadlin yang kusayangi..ibu bahagia melihat kesukesanmu saat ini. Ibu bangga
berhasil mendidik putra-putra ibu menjadi anak yang berbakti dan cerdas.Dan
ibu rasa tugas ibu sudah hampir selesai menemani kalian.Jika kelak kamu
memiliki cukup uang, pergi dan renggutlah mimpi-mimpimu.Tapi satu hal yang
ibu pinta. Sebelum kamu menggapai mimpi itu, tunaikanlah kewajibannmu
sebagai umat muslim, laksanakan rukum islam yang ke 5. Karena itu akan
menjadi penyempurna imanmu. Dan selalu sertakan nama ibu dalam setiap bait
do’amu.Salam rindu untuk anakku Fadlin Azhari".
-Ibu-
|
Pukul 15.00 WIB, Pesawat mendarat di Bandara
International Kuala Namu.Dengan jurus seribu bayangan Ia tempuh tanah
kelahirannya itu. Kerinduan yang mendalam mempercepat kakinya melangkah menuju
sosok pria kurus dan lusuh yang berdiri di persimpangan jalan.Tetesan air mata
rindu membanjiri pipi keduanya.Di dekap erat tubuh pria itu cukup lama demi
membayar perih kerinduan yang tertanam. “Ibu mana mas?Aku akan segera membawa
ibu bersama mimpi-mimpiku” ujarnya. Abangya tak membuka bicara. Mulutnya terbungkam dengan
linangan air mata. Sepucuk surat dikeluarkan dari sakunya. Hatinya yakin ibu
akan memberikan sureprise terindah disaat kepulangannya.
-THE
END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar