Welcome To My Blog

Rabu, 03 Desember 2014


SENJA MERENGGUT MIMPI

Di tengah terik matahari seorang bocah tengah asik menggoreskan tangkai kayu ke permukaan tanah. Tak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, apa lagi cahaya matahari yang kian menjilati tubuhnya. Ia tetap asik dengan imajinasinya itu. Dengan mahir tangannya menari-nari membentuk sebuah benda yang cukup membuatnya terkesima. Hingga seorang wanita separuh baya simpati dan mendekatinya.“Apa yang sedang kau lakukan nak?” sapa perempuan paruh baya yang berdiri dihadapannya.“Aku sedang menggambar sesuatu bu” jawab bocah berusia 6 tahun itu. Ia membungkukkan tubuhnya dan mempertajam pandangannya. Sosok perempuan yang kerap di panggilnya ibu itu terkejut dan menatap tajam mata putra bungsunya.“Mengapa kamu menggambar benda ini nak?Dari mana kamu mengetahuinya?”Tanya ibu penasaran.“Tadi sewaktu aku mengumpulkan botol bekas di kampung sebelah aku menemukan buku ini di lubang sampah.”Jawab bocah dengan polosnya.Bocah yang kerap di sapa Fadlin itu menjulurkan tangannya dan memberikan sebuah buku pada ibunya.“Aku ingin ke tempat itu bu, tempatnya indah sekali. Aku ingin ke puncak itu bu..! Kapan kita bisa ke sana?” rengek Fadlin mendesak ibunya.


“Fadlin anakku..tempat ini sangat jauh untuk bisa kau singgahi. Butuh uang yang sangat banyak agar bisa kesana, dan uang kita gak akan pernah cukup untuk menginjakkan kaki di kota itu.”Sahut bu Ratih memperjelas ucapannya.Fadlin tampak kecewa dengan penjelasan ibunya.Jawaban itu seakan menampar pipinya dan menjatuhkan mimpi-mimpinya. Dengan wajah murung ia berbalik badan dan melangkah ke arah rumah petak yang mungil
****
Kriiinggggggg…….
Bel sekolah berbunyi, pelajaran pertamaakan segara dimulai. Anak-anak mengambil langkah seribu menuju kelas, membentuk barisan rapi layaknya para pasukan semut yang akan mencari mangsa dilorong-lorong gelap. Dengan pakaian merah marondan high heels berukuran 5cm berwarna hitam seorang wanita muda melangkah menuju ruang kelas dimanatempat ia mentransfer ilmu pengetahuannya. Wajahnya bersinar bagai sunrise yang tampak indah dari bibir pantai, senyumnya menyapa siswa-siswi yang siap menerima mata pelajaran hari ini.Wanita yang kerap disapa bu Siska itu segera memulai proses pembelajaran.
“Anak..anak.. keluarkan buku tulisnya!kita akan belajar membaca dan menulis hari ini.” Sahut bu guru.Ia mengeluarkan beberapa media pembelajaran untuk mempermudah murid-muridnya menangkap pesan yang disampaikan. Media tersebut terpampang di papan tulis.Dengan wajah ceria tanpa beban para siswa menebak huruf-huruf yang ada di hadapan mereka.Ketika bu guru menerangkan huruf demi huruf, seorang bocah menatap tajam suatu objekyang membuatnya gelisah semalaman.Ia terhenyak melihat gambar itu, “Bu… tower yang berbentuk A itu ada di daerah mana?” tanyanya lantang. Semua mata tertuju pada bocah si penjual kue keliling, mereka heran dengan pertanyaan aneh yang melintas di telinga.Bu Siska mengernyitkan dahi dan perlahan mendekati bocah aneh itu. “Sayang.. itu namanya bukan tower. Tapi itu adalah menara Eiffel.” Ujar bu Siska. “Letaknya jauh ya bu?”.“Menara Eiffel itu terletak di Negara Perancis dan sangat jauh dari sini, Fadlin harus naik pesawat dulu untuk bisa kesana.”Jawab bu Siska dengan tenang sembari mengusap kepala Fadlin.“hahaha..mana mungkin bocah penjual kue naik pesawat.” Tiba-tiba suara seorang bocah menggelegar diiringi tawa teman-temannya. Bocah gendut bernama ray itu menjatuhkan mimpi Fadlin. Namun Fadlin tak menghiraukan ocehannya, dianggapnya angin lalu saja.Tak puas akan jawaban dari gurunya, ia terus menerus bertanya tentang Paris. Ocehan mereka membuat linglung siswa yang lain, seakan penuh tanya apa yang tengah mereka bicarakan.“Fadlin, sayang..kalau kamu mau ke menara Eiffel kamu harus belajar yang rajin dan bekerja keras. Jika kamu sudah menjadi orang yang sukses Insya’allah kamu akan bisa mengunjungi menara Eiffel itu.” Ujar Bu Siska.Motivasi dari guru favoritnya itu memancarkan sinar indah di wajah Fadlin.Alisnya mengkerut,senyumnya yang khas menatap tajam langit-langit kelas. Sepertinya ia telah menemukan sedikit titik cerah untuk menggapai mimpinya.
“Assalamu’alaikum…Ibu, Fadlin pulang!”,sahut Fadlin sambil berlari-lari kecil.
“Wa’alaikumsalam..” terdengar jawaban dari seorang wanita paruh baya yang tengah mempersiapkan kuenya. Fadlin menjulurkan tangan dan mencium punggung tangan ibunya.Seorang remaja berpakaian lusuh keluar dari bilik kamar dan meraih sebuah tampah berisikan kue yang hendak dijual keliling.“Mas Rian mau keliling ya?Fadlin ikut ya mas.”Seru Fadlin memohon.“ya sudah kalau kamu mau ikut, buruan ganti baju gih”. Perintah abangnya yang tengah duduk di kelas 1 SMP itu.“okey” sambil mengangkat jempol ke arah abangnya, Ia berlari menyingkap tirai kamartua yang tak berpintu. Bu Ratih tampak bahagia melihat keakraban putra-putranya.Semenjak ditinggal suaminya bu Ratih harus membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan keluarga.Semangat untuk membiayai pendidikan mereka pun terus berkobar.Tangannya yang mahir dalam mengadon kuetelah berhasil menghantarkan putra-putranya pada pendidikan yang lebih tinggi.Sesekali iamenjadi buruh cuci dan setrika untuk menambah pendapatannya.
Hari terus berganti, roda zaman terus berputar dan semangat Keluarga Bu Ratih tak kunjung pudar untuk melanjutkan hidup Rutinitas yang dilakukan Fadlin dan abangnya tak terbuang sia-sia.Melalui kerja keras mereka dan rintihan do’a sang ibu, 2 bocahpekerja keras ini dapat terus melanjutkan pendidikan. Kini Fadlin telah berada di masa putih abu-abu.Ia tumbuh menjadi seorang remaja yang tampan dan cerdas.wajahnya tak jauh berbeda dengan almarhum ayahnya yang konon menjadi pria idaman para kembang desa. Begitu juga dengan sosok Rian yang menjadi tulang punggung keluarga.Namun sayangnya Rian tak dapat melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, ia menyadari keterbatasan ekonomi yang dimiliki. Putra sulung bu Ratih itu tampak prihatin dengan kondisi ibunya yang kian hari lemas dan tak bergairah.Sering kali Rian dan Fadlin berniat membawa ibunya ke rumah sakit, namun niat mereka terhambat oleh biaya.
****
Siang itu langit tampak tak bersahabat, awan gelap perlahan menutupi cahaya sang surya, tampak gumpalan awan tak dapat menahan beban.Namun keadaan tak memudarkan kobaran semangat para pasukan coklat muda dan coklat tua yang tengah asik latihan dengan gigihnya.Meskipun cuaca tak dapat diajak kompromi, mereka bersikukuh untuk menyalurkan hobbi.
“Adik-adik… Ini adalah hari terakhir kalian dalam proses seleksi untuk mengikuti kegiatan Perlombaan Perkemahan Prestasi. Siapapun yang akan terpilih diharapkan mampu membawa harum nama sekolah kita, khusunya gugus depan pramuka SMA N.1 STABAT.” Ujar seorang Lelaki gagah dengan seragam coklat muda dan coklat tua yang dikenakannya.Beliau dikenal sebagai sosok Pembina yang sangat bijaksana, kreatif, dan selalu menghadirkan adik-adik yang mampu membawa kebanggaan.Duaaarrrrrr…..
Gemuruh guntur mulai menyerang belahan bumi Stabat, anggota pramuka yang tengah berbaris berlarian menuju kelas kosong dihadapan mereka. Jantung Fadlin berdegup kencang tak seperti biasanya.Bukan karena guntur yang menyapa namun rasa penasaran yang tinggi kerap menghantui. Tak henti mulutnya berkomat kamit memanjatkan do’a agar isi surat itu membawa keberuntungan bagi dirinya. “Nah, adik-adik..ditangan kalian telah saya berikan sebuah amplop yang di dalamnya berisikan hasil seleksi yang kalian lakukan selama seminggu. Selamat bagi kalian yang terpilih, dan untuk yang belum beruntung masih ada kesempatan untuk terus berusaha agar bisa mengikuti kegiatan-kegiatan selanjutnya”. Ucap kak Hendra sang Pembina.Tangan Fadlin bergetar hebat, perlahan dibukanya amplop tersebut.Mata Fadlin tampak berkaca-kaca membaca isi surat itu dan langsung sujud di tengah-tengah keramaian. Terang saja ia bahagia dan terharu, ini adalah perkemahan pertama yang berhasil ia taklukkan. Dengan rasa percaya diri yang tinggi ia berharap dapat membawa kebanggaan untuk sekolahnya. “Selamat Fadlin! akhirnya kamu lulus seleksi, dan kakak percayakan pada kamu untuk menjadi pimpinan sangga putera selama kegiatan berlangsung” ujar kak Hendra dengan senyum manisnya. “wah.. serius kak?, Fadlin janji akan menjadi seorang Pinsa yang bertanggung jawab”. Ucap remaja 15 tahun itu.Remaja kelahiran desa Pantai gemi, 15 Juni 1993 ini tidak hanya aktif di ekskul Pramuka tetapi ia selalu di percaya untuk mengikuti olimpiade matematika dan fisika yang diadakan sekolah maupun diluar sekolah. Bersama sepeda tuanya ia kembali ke rumahdengan  wajahbersinar meski hujan mengguyur tubuhnya. Setibanya di depan pintu keadaan yang memprihatinkan kembali terjadi pada keluarganya. Hujan yang tumpah saat itu menggenangi pekarangan, ditambah lagi bintang-bintang kecil mengelilingi atap rumah.Dengan tertatih wanita tua itu mengambil ember untuk menampung curah hujan yang turun dari celah-celah atap rumahnya.Melihat keadaan itu Fadlin meneteskan air mata dan langsung menggiring ibunya ke kamar.“Ibu istirahat saja disini, biar Fadlin yang membereskan ini semua” Sahut anak yang berbakti itu.Usai membereskan semuanya Fadlin kembali ke kamar ibunya dengan segelas air hangat dan sepiring nasi dengan tempe dan kecap. Makanan inilah yang hampir tiap hari di konsumsi ia sekeluarga. Sesekali abangnya membawakan buah-buahan untuk memperbaiki gizi. “Bu, Fadlin lulus seleksi untuk mengikuti kegiatan lomba pramuka di Unimed selama 5 hari. Dan minggu depan Fadlin berangkat, tapi melihat kondisi Ibu seperti ini Fadlin gak tega untuk ninggalin Ibu.” Sahut putra bungsu bu Ratih sambil memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut ibunya.“Pergilah nak, ibu baik-baik saja. Ibu tau hobimu itu akan membawamu menjadi orang yang berguna. Almarhum ayahmu dulu sangat sering keluar kota karena prestasi Pramukanya. Wajar jika anak ibu yang gagah ini mewarisi hobi ayahnya.“Benarkah bu?Kalau ayah saja bisa keluar kota berarti Fadlin bisa ke luar negeri dong!”. “Haha..kamu ini ada2 saja”. Senyum sumringah terpancar di wajah keduanya.“Berangkat dan bawalah kebanggaan untuk sekolahmu nak.”Sahut bu Ratih mendukung aktivitas anaknya.“Terimakasih ya bu, udah dukung Fadlin untuk ikut kegiatan ini.Fadlin janji gak akan ngecewain ibu.”Dipeluknya tubuh ibunya yang terbaring lemas tak berdaya.
Keyakinan Fadlin membuahkan hasil.Ia menjadi seorang pramuka penegak terbaik di kegiatan LPPP Unimed. Ia dan teman-temannya berhasil membawa pulang 5 piala sekaligus. Fadlin Azhari, sebuah nama yangmenjadi kebanggan Pramuka Gugus Depan SMA N.1 STABAT. Berbagai kegiatan yang diikutinya terus meningkatkan citra sekolah. Kini ia dipercaya untuk membina adik-adik siaga di SD nya dulu.Ia mampu mengumpulkan uang dari jerih payahnya itu. Pekerjaan apapun ia lakukan untuk menggapai setitik mimpi yang ia gantungkan tinggi di langit lepas. Ia sadar sangat kecil kemungkinan untuk dapat menggapai mimpi itu, tapi usaha dan do’a di sepertiga malamnya yang menguatkan keyakinannya.
****
Demi mendaki mimpi yang tlah tertanam, Fadlin terbang meninggalkan keluarga kecil dan gubuk tuanya untuk melanjutkan bangku pendidikan di Universitas Negeri Semarang.Iamengambil jurusan Pend. Bahasa Perancis dan mendapatkan beasiswa bidik misi disana.UNNES adalah Universitas kebanggannya sejak dulu. Kini detik-detik mimpi ke Paris akan segera terwujud. Bahasa Perancis yang dikuasainya menjadi salah satu modal ke Negeri Napoleon itu. 4 tahun sudah ia menjadi anak perantauan. Tempat ia mengais ilmu dan mengadu nasib. Fadlin tetap pada tekadnya membawa ibunya ke Paris. Kota Romantis yang ia idam-idamkan itu akan segera ditaklukkannya. “Ibu, sebentar lagi putra bungsumu ini akan kembali ke tanah kelahiran dengan mimpi yang telah ada di depan mata. Aku akan bersamamu menulusuri sudut-sudut Paris dan mendaki puncak tertinggi La tour Eiffel.” Ia bergumam di balik awan yang menyapa. Tatapannya tajam menelusuri jejak-jejak awan yang perlahan meninggalkannya.Ia tlah mengetahui segala seluk beluk kehidupan di Paris melalui buku yang setiap hari menjadi sarapan paginya.
 
"Anakku Fadlin yang kusayangi..ibu bahagia melihat kesukesanmu saat ini. Ibu bangga berhasil mendidik putra-putra ibu menjadi anak yang berbakti dan cerdas.Dan ibu rasa tugas ibu sudah hampir selesai menemani kalian.Jika kelak kamu memiliki cukup uang, pergi dan renggutlah mimpi-mimpimu.Tapi satu hal yang ibu pinta. Sebelum kamu menggapai mimpi itu, tunaikanlah kewajibannmu sebagai umat muslim, laksanakan rukum islam yang ke 5. Karena itu akan menjadi penyempurna imanmu. Dan selalu sertakan nama ibu dalam setiap bait do’amu.Salam rindu untuk anakku Fadlin Azhari".
-Ibu-

Pukul 15.00 WIB, Pesawat mendarat di Bandara International Kuala Namu.Dengan jurus seribu bayangan Ia tempuh tanah kelahirannya itu. Kerinduan yang mendalam mempercepat kakinya melangkah menuju sosok pria kurus dan lusuh yang berdiri di persimpangan jalan.Tetesan air mata rindu membanjiri pipi keduanya.Di dekap erat tubuh pria itu cukup lama demi membayar perih kerinduan yang tertanam. “Ibu mana mas?Aku akan segera membawa ibu bersama mimpi-mimpiku” ujarnya. Abangya tak  membuka bicara. Mulutnya terbungkam dengan linangan air mata. Sepucuk surat dikeluarkan dari sakunya. Hatinya yakin ibu akan memberikan sureprise terindah disaat kepulangannya.

Setelah membaca sepucuk surat di kehadiran senja, sepintas terlintas di hadapannya bendera merah yang tertancap di pelepah pisang tempat ia menggoreskan mimpi dulu. Gemuruh pijakan kaki seorang pemimpi ini menarik perhatian para warga yang tengah melantunkan alunan do’a.Senja datang beriringan bersama jingga yang mulai menguning disudut kaki langit.Namun senja menggoreskan sakit yang begitu mendalam di pelupuk hati, senja juga telah merenggut mimpi insan yang ingin menginjakkan kaki di negeri Eropa.Kini keindahan senja hadir mengiringi kepergian sosok berhati mulia yang mampu menyinari dunia.
-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar