Selimut
lembut masih membalut tubuhku. Mendekap guling adalah hal ternyaman yang
kurasakan. Pagi itu aku masih terjaga dalam tidurku. Saat itu perasaanku agak
berbeda, tiba-tiba terasa badai mimpi menghantam wajahku. Byurrr…. Segayung air
mendarat di wajah. Tidak salah lagi, ini pasti ulah kakakku dengan kebodohan
hobinya.
Oh God…!!
Mengapa wanita tomboy ini selalu mengganggu keindahan mimpiku. Padahal aku
sedang menikmati kenyamanan duduk di atas punggung kuda bersama seorang lelaki
yang wajahnya sulit untuk ku tebak. Belum sempat melihat tatapan matanya kak
Mira sudah membuyarkan mimpiku.
“Kak
Mira… jangan kabur loe!!!!” Aku berteriak sekencang-kencangnya melebihi toa
yang ada di masjid.
“seneng banget
si Loe ganggu mimpi indah gue!” cetusku mengomel.
Parahnya
ia selalu tertawa melihat penderitaanku. Punya kakak jahilnya minta amplop
(eh…minta ampun maksudnya :D)
Yaa…..
begitulah insiden di rumahku setiap paginya. Kak Mira adalah sosok wanita separuh
pria. Haha..dia tuh tomboy abis,, tapi aku bangga karna dia udah kerja sebagai
salah seorang tenaga pendidik yang mampu mencerdaskan anak bangsa. Tapi sifat
jahilnya itu lho… gak ketolongan. Liat aja ntar tuh orang bakalan gue kerjain
gantian (hihihi… >:/ )
Tapi
sayang dia lebih sering memainkan hobi gilanya karena tiap pagi gue yang sering
telat bangun. (hadeeeh… gatot -_-)
Upsss….
(tampang terkejut)
Waktunya
ke sanggar nih.
Setibanya di sanggar
“Ini
sanggar atau kandang ayam sih?” ucapku dalam hati.
Yah…
sanggar kecil tempat aku berdiri ini tempatku berimajinasi. Meski keadaannya
seperti ini. (menggerutu sambil beres-beres).
Aku suka
menghayal disini, tapi hayalanku penuh cinta (hihi… ketok kepala sekali :D)
Tempat
favoritku adalah di bawah pohon jambu yang selalu berbuah meski gak pada
musimnya. Yah… Meski terkadang semut rang-rang itu selalu mengganggu
kenyamananku tapi kini ku mulai bersahabat dengan mereka (haha..acem betol
aja). Itulah sebabnya aku menamakan sanggar ini “SANGGAR KECIL TUNAS CINTA”.
Selain itu ada kisah tersendiri mengapa ku beri nama itu.
Oh, iya…
sanggar yang kumksud ini merupakan tempat aku mengemban ilmu Pramuka. Jiwa
pramuka memang sudah melekat di hatiku. Bagaikan amplop dan perangko, selalu
merekat dan terlihat serasi (hihi..keren bo’)
Ok fix,
lanjut di hobiku yang gila ini. Aku hobi camping, singing, writing, reading
sampe-sampe rambut pun kriting hehehe…
Hobi
gilaku memang di Pramuka. Aku sih fine2 aja kalau orang bilang gila Pramuka!
Tapi tanganku akan mengepal dan alis ku akan
naik 30o jika ada yang mengatakan aku Pramuka gila.
Aksiku di
sanggar kecil ini cukup banyak, mulai dari berimajinasi, nonton tv, ngotak
ngatik laptop, sampai berburu mimpi pun disini.. (aksi apaan.. hihi ^_^)
Tapi yang
tak kalah penting aku suka menuangkan imajinasiku ke dalam goresan pena. Aku
bahagia melihat keakraban pena dan
jari-jariku yang senantiasa selalu menghasilkan karya. Jiwaku indah jika seni
selalu ada dalam hidupku. Bagiku hidup tanpa seni hanya akan terlihat monoton
dan takkan menarik.
Sejenak
kurebahkan tubuhku di sebuah kursi panjang dalam sanggar di hadapan tv. Sempat
terlintas dipikiranku kenapa ya kakak ku itu jahilnya luar binasa (luar biasa
kale -_-). Memang sih dia baik banget
tapi entah alasan apa yang membuatnya seperti itu. mungkin karena sifatnya yang
tomboy itu kali ya.. apalagi dia sulit banget deket sama cowok (hihi…kasian
banget kakak gue). Perlu dipermak kayaknya tu orang.
Hmm…
mengingat cowok aku jadi teringat sebuah kisah terlukis indah di masa lalu
(mulai galau deh… L)
Kakakku
memang tomboy, tapi dia selalu enjoy. Nah gue, jadi korban pelarian (nyesek
banget L)
Perdana
ku menginjakkan kaki dan menyandang gelar warga racana ia selalu hadir di dunia
nyata dan dunia khayalku.
Oh God!
Otakku mulai keracunan pada saat itu. yang bener aje, wajahnya keliling-keliling
di atas kepala. Udah kaya’ burung cicicuit yang di filem-filem aje.
Awalnya
kenalan, terus ngajak ngobrol, perhatian, jalan, dan akhirnya… eng ing eng!!
Dia
ngungkapin perasaannya bo’.. (cepet banget -_-)
Aku mah
bingung mau bilang apa, jujur aja aku juga suka sama dia. Mulai kena virus pink
deh hati gue pada saat itu. (klepek,,klepek :D)
“Hello….Chacha,
Please deh.. jangan deketin dia lagi”. Ujar cika temen seperjuanganku.
“Kenapa
memangnya Cik?” tanyaku penasaran.
“Dia tuh
playboy banget. Udah ada cewe nya kale” cetusnya.
“Ah, yang
bener Loe” (spot jantung, gak percaya)
“iya,
serius. Kamu tu Cuma jadi korban pelarian dia aja, memang dia sempet putus sama
cewenya itu karena dia bosen sama tuh cewe. Terus jadiin kamu sasaran pelarian
deh”.
“sialan
juga tuh cowo.” (gigit jari -_-)
“Haduh
Chacha.. jangan gampang ketipu sama omongan lelaki deh. Apalagi di sanggar ini,
kita juga udah di nasehati kan sama salah satu kakak senior.”
“Iya sih,
Cik. Tapi….”
“jangan
bilang kamu juga suka sama dia! Hello….Stop thingking about him. Okey!!”
“Chacha
sayang… kamu tu sahabat aku. Aku gak mau kamu sakit hati.” Ujarnya perhatian.
“sekarang
udah gak jaman jatuh cinta pake hati, tapi pake otak. Kaya lagunya Rossa nih.”
“Hey ladies, sekarang cinta pakai otak jangan
mau ditipu dan diduakan…………”
(yaelah…
si kawan malah nyanyi -_-)
Oke deh..
itu kisah lumayan nguras hati, semangat dan fikiran gue. Makanya sekarang males
banget bahas cinta.
Eitts…
tapi gak bisa gitu juga sih, Arti kata cinta itu harus ku perluas. Memang
awalnya aku menjuluki sanggar itu pas menatap wajahnya. Tapi bukan berarti
cinta juga ikut jadi korban atas kemurkaanku padanya. Di sanggar kecil ini
banyak cinta yang ku peroleh. Mulai dari cinta kepada orang-orang sanggarnya,
cinta ilmu pramukanya, cinta alamnya dan gak kalah penting aku mencintai
sanggar ini karena ia selalu menjadi saksi cinta dan imajinasiku (hahai….)
Oke deh…
jam tanganku menunjukkan pukul 10.00 WIB.
What… jam
10. Itu artinya…
Gue harus
kuliah….
Telat
nih…keenakan ngayal
Sampai
disini dulu goresan penaku tentang sanggar
kecil tunas cinta.
Pesanku :
jangan memperkecil makna cinta, dan jangan kambing hitamkan cinta dalam
masalahmu. Karena sesungguhnya cinta itu luas, seluas cintaku pada sang Maha
Cinta.
-THE END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar