Pandangan terhampar luas kelaut lepas. Angin menyapa perlahan ketika kaki mulai bersahabat dengan pasir putih yang berkilauan. Langit tampak membiru bergumpal awan putih.
Terik mentari kurang bersahabat, ia memaksa mataku untuk terpecing dan membuat tubuh ini terbaring lemas di dalam gubuk tua yang berjajar di
bibir pantai.
Ku pandang langit-langit gubuk tua itu, dan terlintas ingatan pada sebuah rencana yang menguji adrenalinku.
Yah… apalagi kalau bukan “mendaki gunung”. Hobi yang
mengenalkanku pada tantangan yang membawa kenikmatan. Suatu saat raut wajah indah itu menghalangi lamunanku, suaranya
yang lembut dan khas membuatku jatuh cinta padanya.
“
mas, boleh aku bertanya?”
(kutatap dalam matanya dan menganggukkan kepala)
“kulihat kau sangat mencintai hobimu. Apa yang
membuatmu begitu lekat dengannya?” tanyanya padaku.
Pertanyaan itu tak begitu mengejutkanku. Aku telah biasa menjawab pertanyaan itu pada sahabat-sahabatku sebelumnya. Namun aku mencoba memaknai pertanyaan yang ia utarakan. Ku pandang wajahnya yang teduh seperti ingin merogoh kocek dalam alasan-alasan yang ada
di dalam benak seorang pendaki muda ini. Yah..wajar saja ia menanyakan hal itu, perhatian ku padanya terkuras oleh waktu dan hobi gilaku. Mungkin ia ingin menuntut haknya sebagai kekasihku.
(aku terdiam sejenak dan terus menerka-nerka penyebab ia menanyakan hal itu)
Aku tersentak mendengar permintaan Dinda. Tak mungkin Dinda bisa mendaki bersamaku. Ketakutan menyelimuti jiwaku, seakan hati memberontak tak mengizinkan.
“pendakian
kali ini memakan waktu yang cukup lama
dik, medannya juga sangat berbahaya. Mas takut adik kenapa-kenapa” sahut ku cemas.
“Mas,
takkan ada apa-apa pada diriku. Aku hanya ingin merasakan rintangan dan kenikmatan seperti yang kau ceritakan. Aku ingin merasakan indahnya pengalaman-pengalaman hidupmu.”
“Tapi dik..” secepat kilat jari telunjuknya yang halus mendarat dibibirku. Ia terus memohon agar aku mengizinkannya pergi bersamaku.
“
kumohon mas.. izinkan aku ikut denganmu.” (dengan wajah penuh harap)
“baiklah jika kau memaksa, persiapkan dirimu dengan baik ya sayang.”
“Terimakasihya
mas… ^_^” ujarnya bahagia.
Kedamaian hati menusuk relung jiwa yang tengah dimabuk asmara, virus cinta terus menyebar bersama aliran darah yang mengalir.
Namun kebahagiaan beriringan dengan ketakutan yang serta merta menghujam jantungku. Dibalik wajah yang indah berseri ia terkalahkan dengan kelemahan fisiknya. Itu yang
membuatku ragu untuk mengizinkannya pergi. For the first
time, ia akan berkenalan dengan puncuk gunung Mahameru.
***
“Kamu sudah siap?” tanyaku ragu.
“Sudah
mas.”
Semangat berkobar di dadanya mengurangi sedikit rasa kekhawatiran
yang menghujam. Pendakian pertamanya akan segera dimulai. Aku dan teman-teman komunitas ku telah mengatur strategi untuk menaklukkan Mahameru. Puncak tertinggi di pulau Jawa yang menjadi sasaran empuk para pendaki nusantara. Perjalanan ke puncak memakan waktu sekitar 12 jam. Di tengah perjalanan tepat di daerah kalimati, wajah dinda tampak pucat, tubuhnya lemas keringatnya mengucur deras dan dadanya sesak. Kekhawatiranku terus memuncak. Teman-temanku panik menyaksikan Dinda terbaring kaku. Bibirnya membiru menahan sakit. Kuperiksa ranselnya tak 1 pun kutemukan obat di dalam nya.
“Dinda…bertahanlah, kita akan segera sampai.” Ujarku
menyemangatinya.
“Mas... badanku lemas sekali, aku tak sanggup untuk
berjalan lagi.” Lirihnya.
“teman..teman... kita berhenti sejenak.” Teriakku pada
teman-teman.
“harusnya kau mendengarkan kata-kataku sayang..! kini Mas merasa berdosa mengizinkanmu ikut dalam perjalanan ini.
“Mas
Hamid…” kurasakan lembut tangan Dinda menyentuh pipiku. Peluhku bercucuran, dalam hening air mataku mengalir deras bagai hujan yang menghantam bumi. Matanya yang sayu itu tiba-tiba terpejam dan badannya
terbujur kaku. Lirihku memecah keheningan senja ketika itu.
Dengan kondisi lemah tak berdaya, aku tersentak dalam keheningan, kelopak mata terbuka secara paksa. Pandanganku kabur menatap langit-langit senja. Perlahan kulepas kacamataku dan memandang wajah itu. Kurasakan
jari-jari mungil mengusap air mataku yang tumpah ke pipi, semakin jelas terlihat wajah teduh itu. Di sudut sinar senja kusaksikan wajah indah istriku.
“Dinda…. Dinda istriku” lirihku perlahan.
“Iya
mas..ini aku Dinda istrimu. Sejam lebih mas terlelap dipangkuanku, tiba-tiba
air mata mu menetes dan keringatmu mengucur deras. Kamu kenapa mas?”
“Mas
gak papa kok dik, tadi cuma mimpi buruk. Maaf ya.. mas terlalu lama terlelap.”
“Kau terlihat sangat lelah mas, ayo kita ke villa.”
Ujarnya.
Ku
dudukkan tubuhku
yang masih terasa lemas dan menatap dalam matanya yang bulat sambil menggenggam erat tangannya. Terasa sedikit kasar, mungkin terlalu banyak pekerjaan rumah yang ia kerjakan. Maafkan suami mu ini
Dinda.. sejak dulu aku jarang memberikan perhatian padamu, mas terobsesi dengan hobi gila itu.
Setahun sudah ku jalani hidup bersamamu, mas takkan pernah menyia-nyia kan mu lagi.
Aku berharap wajahmu yang kan slalu kupandangi dari terbit fajar sampai senja datang menghampiri.
(kusentuh pipinya perlahan dan menarik dagunya yang panjang).
“Di sudut sinar senja pun kau terlihat cantik istriku. Harapanku adalah engkau yang menjadi bidadari surga yang kan menemani ku nanti. Karna dirimu adalah perhiasan terindah yang
diturunkan Sang Maha Cinta untuk sang pendaki gila sepertiku. J
-
THE END -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar