Welcome To My Blog

Selasa, 13 Januari 2015

The third short story ^_^


CINTA di SUDUT SINAR SENJA

Pandangan terhampar luas kelaut lepas. Angin menyapa perlahan ketika kaki mulai bersahabat dengan pasir putih yang berkilauan. Langit tampak membiru bergumpal awan putih. Terik mentari kurang bersahabat, ia memaksa mataku untuk terpecing dan membuat tubuh ini terbaring lemas di dalam gubuk tua yang berjajar di bibir pantai. Ku pandang langit-langit gubuk tua itu, dan terlintas ingatan pada sebuah rencana yang menguji adrenalinku. Yah… apalagi kalau bukan “mendaki gunung”. Hobi yang mengenalkanku pada tantangan yang membawa kenikmatan. Suatu saat raut wajah indah itu menghalangi lamunanku, suaranya yang lembut dan khas membuatku jatuh cinta padanya.
“ mas, boleh aku bertanya?”
(kutatap dalam matanya dan menganggukkan kepala)
“kulihat kau sangat mencintai hobimu. Apa yang membuatmu begitu lekat dengannya?” tanyanya padaku.
Pertanyaan itu tak begitu mengejutkanku. Aku telah biasa menjawab pertanyaan itu pada sahabat-sahabatku sebelumnya. Namun aku mencoba memaknai pertanyaan yang ia utarakan. Ku pandang wajahnya yang teduh seperti ingin merogoh kocek dalam alasan-alasan yang ada di dalam benak seorang pendaki muda ini. Yah..wajar saja ia menanyakan hal itu, perhatian ku padanya terkuras oleh waktu dan hobi gilaku. Mungkin ia ingin menuntut haknya sebagai kekasihku.
(aku terdiam sejenak dan terus menerka-nerka penyebab ia menanyakan hal itu)                            
Dengan hati tenang aku pun menjawab “Kekasihku, aku sangat menyukai suasana pegunungan. Gunung juga menjadi tempat inspirasiku. Sebelum mengenal dirimu aku lebih dulu mencintai hobiku, tapi bukan berarti aku tidak mencintaimu. Begitu banyak pengalaman hidup yang kuperoleh. Dari start seorang pendaki tentu telah menentukan target finish. Namun langkah pendaki takkan berjalan mulus, selalu ada rintangan yang harus dihadapi. Begitu juga dengan kehidupan yang kita jalani, takkan pernah manusia hidup tanpa masalah dan tantangan. Seringnya ujian yang diberikan kepada kita membuat kita akan terbiasa menjalaninya. Perjalanan menuju masa depan pun  butuh sebuah proses, proses pendewasaan yang akan membawa kita pada keberhasilan.”
Kulihat matanya yang bulat berkaca-kaca menatap wajahku. Telapak tanganku yang kasar menyentuh pipinya yang chubby. “sekarang aku tau mengapa kau begitu mencintai hobimu. Mas, bolehkah aku ikut mendaki bersamamu?”
Aku tersentak mendengar permintaan Dinda. Tak mungkin Dinda bisa mendaki bersamaku. Ketakutan menyelimuti jiwaku, seakan hati memberontak tak mengizinkan.
“pendakian kali ini memakan waktu yang cukup lama dik, medannya juga sangat berbahaya. Mas takut adik kenapa-kenapa” sahut ku cemas.
“Mas, takkan ada apa-apa pada diriku. Aku hanya ingin merasakan rintangan dan kenikmatan seperti yang kau ceritakan. Aku ingin merasakan indahnya pengalaman-pengalaman hidupmu.”
“Tapi dik..” secepat kilat jari telunjuknya yang halus mendarat dibibirku. Ia terus memohon agar aku mengizinkannya pergi bersamaku.
“ kumohon mas.. izinkan aku ikut denganmu.” (dengan wajah penuh harap)
“baiklah jika kau memaksa, persiapkan dirimu dengan baik ya sayang.”
“Terimakasihya mas… ^_^”  ujarnya bahagia.
Kedamaian hati menusuk relung jiwa yang tengah dimabuk asmara, virus cinta terus menyebar bersama aliran darah yang mengalir. Namun kebahagiaan beriringan dengan ketakutan yang serta merta menghujam jantungku. Dibalik wajah yang indah berseri ia terkalahkan dengan kelemahan fisiknya. Itu yang membuatku ragu untuk mengizinkannya pergi. For the first time, ia akan berkenalan dengan puncuk gunung Mahameru.
***



“Mas, ayo kita berangkat!” ajak kekasihku.
“Kamu sudah siap?” tanyaku ragu.
“Sudah mas.”
Semangat berkobar di dadanya mengurangi sedikit rasa kekhawatiran yang menghujam. Pendakian pertamanya akan segera dimulai. Aku dan teman-teman komunitas ku telah mengatur strategi untuk menaklukkan Mahameru. Puncak tertinggi di pulau Jawa yang menjadi sasaran empuk para pendaki nusantara. Perjalanan ke puncak memakan waktu sekitar 12 jam. Di tengah perjalanan tepat di daerah kalimati, wajah dinda tampak pucat, tubuhnya lemas keringatnya mengucur deras dan dadanya sesak. Kekhawatiranku terus memuncak. Teman-temanku panik menyaksikan Dinda terbaring kaku. Bibirnya membiru menahan sakit. Kuperiksa ranselnya tak 1 pun kutemukan obat di dalam nya.
“Dinda…bertahanlah, kita akan segera sampai.” Ujarku menyemangatinya.
“Mas... badanku lemas sekali, aku tak sanggup untuk berjalan lagi.” Lirihnya.
“teman..teman... kita berhenti sejenak.” Teriakku pada teman-teman.
“harusnya kau mendengarkan kata-kataku sayang..! kini Mas merasa berdosa mengizinkanmu ikut dalam perjalanan ini.
“Mas Hamid…” kurasakan lembut tangan Dinda menyentuh pipiku. Peluhku bercucuran, dalam hening air mataku mengalir deras bagai hujan yang menghantam bumi. Matanya yang sayu itu tiba-tiba terpejam dan badannya terbujur kaku. Lirihku memecah keheningan senja ketika itu.
Dengan kondisi lemah tak berdaya, aku tersentak dalam keheningan, kelopak mata terbuka secara paksa. Pandanganku kabur menatap langit-langit senja. Perlahan kulepas kacamataku dan memandang wajah itu.  Kurasakan jari-jari mungil mengusap air mataku yang tumpah ke pipi, semakin jelas terlihat wajah teduh itu. Di sudut sinar senja kusaksikan wajah indah istriku.
Dinda…. Dinda istriku” lirihku perlahan.
“Iya mas..ini aku Dinda istrimu. Sejam lebih mas terlelap dipangkuanku, tiba-tiba air mata mu menetes dan keringatmu mengucur deras. Kamu kenapa mas?”
Ternyata pendakian itu hanyalah bagian dari hobi di masa lalu yang menjadi hiasan buruk dalam mimpiku. Sungguh lega hati ini ketika masih kulihat wajah yang selalu meneduhkan jiwaku masih berada dihadapanku.
“Mas gak papa kok dik, tadi cuma mimpi buruk. Maaf ya.. mas terlalu lama terlelap.
“Kau terlihat sangat lelah mas, ayo kita ke villa.” Ujarnya.
Ku dudukkan tubuhku yang masih terasa lemas dan menatap dalam matanya yang bulat sambil menggenggam erat tangannya. Terasa sedikit kasar, mungkin terlalu banyak pekerjaan rumah yang ia kerjakan. Maafkan suami mu ini Dinda.. sejak dulu aku jarang memberikan perhatian padamu, mas terobsesi dengan hobi gila itu. Setahun sudah ku jalani hidup bersamamu, mas takkan pernah menyia-nyia kan mu lagi. Aku berharap wajahmu yang kan slalu kupandangi dari terbit fajar sampai senja datang menghampiri.
(kusentuh pipinya perlahan dan menarik dagunya yang panjang).Di sudut sinar senja pun kau terlihat cantik istriku. Harapanku adalah engkau yang menjadi bidadari surga yang kan menemani ku nanti. Karna dirimu adalah perhiasan terindah yang diturunkan Sang Maha Cinta untuk sang pendaki gila sepertiku. J
-          THE END   -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar